Bijogneo Home
Jumlah Hidrogen sangat berlimpah di alam semesta ini. Sebagai bahan bakar, Hidrogen sangatlah efisien dan dapat disebut ramah terhadap lingkungan. Kendaraan yang menggunakan hidrogen tidak mengeluarkan asap kotor..
FOKUS
Fiksi - Langkah
1 2 3 4 5 6 7
Agar subsidi ini bisa berjalan di lapangan sebagaimana yang diharapkan, maka perlu dilakukan konversi dari STNK convesional ke STNK Card Auto Debet (STNK CAD) yang hanya khusus diterbitkan untuk angkutan...

Senin, 11 April 2011

Nilai Rupiah dan Harga Minyak Dunia

13019411371500042182 
Jika anda ingin belanja barang impor, mobil baru, membangun rumah baru dll, maka inilah minggu yang paling tepat untuk mendapatkan harga termurahnya. Tren nilai rupiah semakin menguat terhadap dollar Amerika. Berdasarkan data Forex, dalam tujuh hari terakhir terjadi penguatan rupiah dari 8.715 ke 8.665 per satu dolar Amerika. Sementara harga minyak mentah dunia jenis Brent Crude Oil, dalam empat bulan terakhir telah meningkat dari 88 ke 120,15 dollar per barrel, ini merupakan nilai tertinggi di awal tahun ini.

Pada Juli 2008 harga minyak mentah pernah mencapai US$ 147 per barrel sebelum akhirnya terjun bebas hingga US$ 45 per barrel. Masih teringat pada Juli 2008 itu nilai rupiah berkisar pada 9.300 per US dollar.
Penguatan rupiah ini tentu saja sangat berarti bagi golongan pekerja seperti saya yang sangat bergantung pada gaji yang dibayar dalam rupiah. Artinya jika dibandingkan situasi saat nilai rupiah 10.000 per dollar, daya beli saya atas barang-barang impor menjadi 13% lebih baik.  Sama artinya, saat ini di pasar harga barang impor sedang turun minimum 13% dari harga awalnya.
13019414441393509067
Hal yang mungkin perlu dipertimbangkan pemerintah adalah daya beli masyarakat atas kebutuhan pokok seperti beras, gula, dan sebagainya. Kebijakan impor untuk kebutuhan pokok tentu diatur dalam undang-undang agar tidak merugikan petani dan pengusaha dalam negeri. Jika daya beli masyarakat menjadi lebih kuat dan beralih kepada produk impor maka ini juga bisa meningkatkan persaingan daya jual produk dalam negeri. Dari sisi positipnya, kondisi ini adalah saat yang tepat bagi produser dalam negeri, untuk meningkatkan kualitas produknya supaya mampu bersaing di pasaran. Kesimpulan sementara, saya dan konsumen lainnya menjadi pihak yang diuntungkan, karena memiliki lebih banyak kesempatan untuk memilih produk yang berkualitas, dengan harga yang kompetitif.

Tapi tunggu dulu, sebagai warga negara yang pas-pasan, saya juga merasa tidak nyaman menggunakan BBM subsidi, namun harga Pertamax yang berkisar Rp 8.700 jelas mulai terasa mencekik anggaran transportasi bulanan.  Jika dibandingkan pada  Februari 2009, ketika harga minyak mentah dunia menyentuh US$ 45 per barrel,  nilai rupiah berada pada 12.000 per US$… lha kog bisa begitu? Yang lebih baiknya adalah harga Pertamax hanya dijual Rp 6.100 per liter, artinya dengan hari ini ada perbedaan sekitar Rp 2.600.- per liter.
Lucunya, pada saat harga pertamax yang sedang jatuh itu, masyarakat yang biasanya menggunakan BBM subsidi, khususnya Premium yang harganya flat terus pada Rp 4.500, juga latah menggunakan Pertamax. Alhasil Pertamax langka di pompa bensin.

Kembali pada kondisi Februari 2009, ternyata dibanding saat ini ketika rupiah sedang menguat-nguatnya, jika dihitung benar-benar, daya hidup justru jauh lebih baik saat harga minyak mentah berada pada nilai terendah. Demikian karena sebagian besar masyarakat memang tidak terlalu konsumtif pada produk impor. Mungkin yang menjerit justru pengusaha transportasi karena adanya kenaikan harga suku cadang, kenaikan harga kendaraan baru dan segala sesuatunya yang berkaitan dengan proses impor.
Jadi kalau dipikir-pikir ini ulahnya siapa? Harga minyak dunia tinggi - Rupiah menguat, sebaliknya saat harga minyak dunia rendah - Rupiah merosot. Ini seperti default (ketentuan) saja! Notabene - masyarakat seperti saya ya tidak mendapatkan nilai tambah, ini seperti rumusan keseimbangan materi saja.
Pertanyaan berikutnya adalah: Benarkah rupiah menguat? apakah ini hanya sebuah simulasi penggelontoran cadangan devisa yang ada? Jika ya, sampai kapan bisa bertahan?

Santer terdengar memang Amerika sedang menurunkan nilai dollarnya terhadap nilai mata uang Cina, Yuan. Alasan utama adalah agar produk Amerika mampu bersaing dengan produk-produk China yang tengah membanjiri Amerika dan dunia. Dari padangan awam saya, Amerika memang lebih bijak menurunkan nilai US$ ketimbang menurunkan biaya produksinya. Dengan begitu, mereka tidak berhadapan dengan demo massa yang menuntut pekerjaan atau kelayakan upah tetapi cukuplah dengan mengorbankan sebagian pendapatan devisanya dari transaksi valuta. Nah, mungkin penguatan rupiah saat ini juga merupakan dampak dari kebijakan Amerika atas penurunan nilai mata uangnya…. mudah-mudahan.